Laman

Rabu, 10 April 2013

Kabupaten Gresik Kota Seribu Makam

Kota Gresik disebut sebagai kota santri, barangkali semua orang maklum. Tapi disebut kota seribu makam? Mungkin masih menimbulkan perdebatan. Tapi Suryono, Kepala Dinas Pariwisata Gresik, tidak menampik. Bahkan beliau menegaskan, sebutan itu perlu dimengerti sebagai kota yang paling banyak terdapat makam auliya (para wali)-nya, dibanding daerah lain.
"Di samping jumlahnya banyak, perlu ditambahkan bahwa kualifikasi mereka yang di makam bukan orang kebanyakan. Mereka orang yang memiliki kelebihan dibanding masyarakat umum. Status mereka para wali atau kerabat wali," katanya tandas. Artinya, secara historis mempunyai keteladanan dan secara agama memiliki kelebihan.
Secara historis, sepak terjang para auliya itu, baik langsung maupun tidak, beperan dalam pembentukan kota Gresik. Karena itu sejarah panjang kota Gresik, tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang mereka. Bahkan sampai mereka telah dikuburkan selama ratusan tahun lalu.
Ditegaskan, makam itu bisa menjadi medium mengenang, meneliti dan menjadi suri tauladan bagi generasi setelahnya. Karenanya, ada tradisi meruwat makam. Ruwatan itu bisa dilakukan dengan acara-acara khaul, mengirim doa-doa dan sebagainya. Tujuannya, untuk mengingat kembali orang-orang yang telah dimakamkan. "Itu yang terus dikembangkan bagi generasi mendatang," imbuhnya.
Secara persis berapa jumlah makam para wali di Gresik, kata Suryono, secara otentik masih terus dikembangkan. Tapi setidaknya sudah ada paguyuban para pengelola makam auliya yang aktif mengikuti pertemuan-pertemuan untuk pengembangannya. Mereka yang ikut aktif sekitar 50 orang, sementara jumlahnya diperkirakan mencapai 300-an tempat makam auliya, sampai pulau Bawean.
Nama dan jumlah makam yang sudah dikenal umum, ia akui, identifikasinya bukan sekaligus. Pengidentifikasian itu telah melalui proses panjang. Sepanjang usia makam itu sendiri. Dengan demikian, tuturnya, tidak menutup kemungkinan akan dikenali lagi makam-makam auliya yang lain yang tersebar di seluruh daerah Gresik.
Upaya pencarian itu dilakukan oleh dinas pariwisata bersama dengan orang-orang yang sudah tergabung dalam paguyuban. Justru upaya terbesar diharapkan dilakukan oleh mereka yang tergabung di paguyuban, karena mereka dinilai lebih intens, sehingga memudahkan untuk pengenalan terhadap makam-makam yang masih anonim.
Makam-makam yang sudah diketahui umum, sering didatangi peziarah dari seluruh Indonesia. Kegiatan ziarah itu, diakui Suryono, masih sebatas ziarah belum dikemas sebagai kegiatan wisata.
Dalam konteks pariwisata, boleh dikatakan sebagai wisata pilgramek (pariwisata keagamaan). Katanya, mereka kadang tidak mau disebut berwisata. "Tapi dari kacamata pariwisata, mereka sudah bisa disebut berwisata, mereka wisatawan," tandasnya. Harapannya, dari berbagai usulan masyarakat, nanti akan dikembangkan menjadi tempat wisata keagamaan sesuai kategorinya.
Sementara ini, perawatan terhadap makam masih dilakukan sendiri-sendiri. Seperti tradisi khaul dan semacamnya. Belum dilakukan secara holistik, artinya seluruh pihak ikut terlibat dalam penanganan. Tapi secara bertahap, menurutnya, akan dikembangkan menjadi obyek-obyek wisata keagamaan. Secara perlahan, bangunannya akan dipercantik, gapura masuknya dibuatkan, sarana-prasarana disediakan.

Kuburan PanjangSementara ini makam yang sudah dikenali jumlahnya puluhan. Makam-makam itu secara historis memiliki keterkaitan dengan sejarah, baik sejarah penyebaran agama di tanah Jawa maupun sejarah pemerintahan pertama di Gresik. Di wilayah
kota Gresik saja, bila dirunut akan ditemukan makam para wali, selain yang sudah akrab di telinga.
Simak misalnya, makam Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapuro. Wali yang dikenal dengan Syeh Maghribi, adalah tokoh penyebar agama Islam yang datang ke Jawa Timur sebagai pedagang. Kehadirannya di kota Gresik ini membuat agama Islam berkembang dengan pesat. Ia dikenal sebagai orang yang pertama memperkenalkan sistem pendidikan pondok pesantren yang dikenal sampai sekarang. Makam tersebut mempunyai keunikan, batu nisannya bertuliskan huruf Arab model Kafi.
Menurut Maksum, pengurus harian yayasan Maulana Malik Ibrahim, di area makam ini terdapat makam lain, yakni makam Syekh Maulana Ishak (bapak Sunan Giri), dan Syekh Maulana Magrabi (penasehat Malik Ibrahim). Selain di dua cungkup itu, juga terdapat sekitar 50 makam, yang dipercaya mereka adalah para santri Malik Ibrahim.
Di bukit Giri, di desa Giri Kebomas, disamping terdapat makam Sunan Giri, juga terdapat makam lain yang rata-rata memiliki sejarah yang hebat di masanya. Sebut misalnya Syekh Hujjah (penasehat Sunan Giri) yang konon dari Pasai. Syekh Grigis (penasehat), Mbah Dekah (keturunan), Sunan Prapen (cucu), Mbah Singolodro (prajurit), dan Raden Supeno (putera, meninggal waktu bayi).
Di samping itu terdapat makam Kanjeng Sunan Dalam, Kanjeng Sunan Sedo Ing Margi, Kanjeng Sunan Prapen (ketiganya pemimpin di Giri Kedhaton dan mengalami masa kejayaan). Dan makam Panembahan Kawis Guwo, Panembahan Agung, dan Panembahan Mas Witono (penerus kepemimpinan Sunan).
Makam-makam di sini mempunyai daya tarik tersendiri. Disamping merupakan makam wali yang keramat dan mempunyai nilai tersendiri dari pada makam-makam kuno lainnya, bangunannya dihiasi ukiran indah dan artistik. Yang paling tampak adalah Gapura pintu masuk terdapat patung Naga Bentar, naga dengan mahkota di kepalanya. Jaraknya sekitar 8 km dari pusat kota.
Di tengah kota juga ada makam Nyai Ageng Pinatih (Syah Bandar Gresik). Makamnya terletak di tengah kota Gresik, di Desa Kebungson berjarak sekitar 300 meter sebelah utara alun-alun kota Gresik.
Di Leran Kecamatan Manyar, terdapat makam Fatimah Binti Maimun. Merupakan salah satu tokoh yang penting dalam mengungkapkan sejarah masuknya Agama Islam di Pulau Jawa. Selain Siti fatimah, dayang-dayangnya juga dikuburkan di sana. Seperti putri Kamboja, putri Kucing, putri Keling dan Nyai Seruni.
Dimakam ini terdapat peninggalan sejarah berupa gapura, krepyak dan prasasti batu tertulis. Jaraknya sekitar 8 km dari kota Gresik. Di lingkungan makam ini, dikenal orang dengan sebutan makam panjang. Terdapat sekitar lim amkam, panjangnya mencapai 7 x 2 meter. Makam panjang itu diantaranya makam Sayid Dja'far, Sayid Kharim, Sayid Syarief, Sayid Djamaluddin, Sayid Djalal dan Sayid Djamal.
Di beberapa daerah lain, masih banyak makam yang juga dikenal luas masyarakat. Seperti Kyai Qamaruddin di Bungah dan Kanjeng Sepuh di Sidayu. Makam-makam lain di luar pusat kota rata-rata belum dikembangkan sebagaimana tempat wisata keagamaan atau wisata budaya semestinya.

Kendala dan PotensiSeperti diakui Suryono, kendala utama untuk mengembangkan makam-makam itu sebagai tempat wisata, karena belum ada manajemen yang menyeluruh. Manajemen yang diterapkan selama ini, hanya dilakukan secara parsial oleh masyarakat di mana makam itu berada. Kegiatan yang dilakukan paling-paling sebatas khaul, tahlilan, dan semacamnya. Belum ada program khusus untuk menciptakan suasana wisata di tempat-tempat itu.

Seperti pengalaman Moh Hasan, 56, Sekretaris Yayasan Sunan Giri, bahwa untuk membuat suasana nyaman, tempat sekitar makam harus diperhatikan. Mulai kebersihan, perawatan bangunan, listrik dan air, perlu dijaga agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. Tapi untuk semua itu membutuhkan biaya dan dukungan manajemen yang rapi, terutama dari dinas pariwisata, misalnya.
"Sekarang sudah ditetapkan, bahwa untuk perawatan makam adalah menjadi tanggung jawab bersama. Artinya dari masyarakatnya, pengurus yayasannya, maupun pemerintahnya. Jadi kalau kekurangan apa-apa, ya mestinya ditanggung bersama," harapnya.
Kendala lain di luar manajemen, seperti pengalaman di Giri, menurutnya, pengemis dan pedagang kaki lima. Diakui keberadaan mereka sedikit banyak mengganggu kegiatan para peziarah. Tapi di mana-mana kenyataan ini selalu muncul dan tak mudah ditangani. Walau mereka dibersihkan dari lokasi makam, akan selalu kembali besoknya lagi.
Seperti juga diakui Maksum, pihaknya tidak pernah minta-minta bantuan untuk perawatan makam Maulana Malik Ibrahim. Dua bangunan cungkup yang memayungi makam, dibenahi dengan biaya dari sedekah para peziarah. Bahkan ruang berdzikir yang ada di samping makam, juga dibangun sendiri dari sumber sedekah itu.
Belum lagi bicara soal benda-benda cagar budaya yang mesti dijaga keadaannya. Seperti peninggalan-peninggalan para auliya yang sudah didaftar sebagai benda cagar budaya, atau yang belum didaftarkan tapi harus dijaga. Semua itu memerlukan keseriusan semua pihak untuk sama-sama merawatnya, bila pun perlu memerlukan dana.
Padahal, seperti dalam laporan yayasan-yayasan itu, bahwa pengunjung yang datang ke makam, selama 1999-2003, tidak kurang ada 228 wisatawan asing, dan 7.462.115 wisatawan lokal. Jumlah itu hanya menghitung yang sempat terdata. Tidak menutup kemungkinan, banyak yang lolos dan tak sempat terdata.
Dari jumlah itu sebenarnya, kata Suryono, sangat potensial untuk dikembangkan di daerah-daerah lain yang layak. Dalam beberapa waktu ke depan, lanjutnya, akan dikembangkan lokasi wisata budaya baru, tepatnya di Surowiti. Meski bukan makam, tapi Surowiti adalah petilasan yang pernah digunakan kegiatan Sunan Kalijaga. "Kita akan lengkapi sarana-prasaran ke sana. Termasuk beberapa aktivitas puncak gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan terpadu pada 18-2 kita pusatkan di sana," tambahnya. Kegiatan-kegiatan lain peneint diadakan untuk membackup kegiatan pariwisata di situ. Di Surowiti juga ada gua-gua yang ke depannya nanti akan di set up sehingga layak sebagai obyek wisata," imbuhnya.-tono w.